SHARE
DCID - Pedestrian - FI

Maraknya pembangunan sarana transportasi umum bercampur dengan kebiasaan pengendara pribadi, membuat Jakarta banyak terjadi kemacetan. Untuk menguranginya sekarang kamu pasti sadar banyak transportasi online untuk mengurangi kemacetan.

Tapi ternyata ini menjadi kebiasaan orang yang buruk loh! Diantara kamu pasti pernah menggunakan ojek online untuk mengantar kamu ke sebuah toko kelontong dengan jarak 100 meter. Sebuah perusahaan pernah membandingkan data yang menjunjukkan bahwa hasrat orang Indoneisa memiliki sifat malas dengan jumlah langkah kaki kurang dari 3,500 per hari. Jauh lebih sedikit dibandingkan Hongkong yang bakalan jalan kaki lebih dari 13,000 langkah.

Hal ini tentu saja terjadi karena memang banyak fasilitas pejalan kaki yang tidak ada di beberapa tempat, dan di tempat dimana ada fasilitasnya pun  timbul berbagai cara kreatif untuk memperingati pemotor yang tidak tertib:

Tiduran di Trotoar

DCID 1 Melawan pelanggar lalu lintas
Photo by Trotoarian

Memasang badan di tengah trotoar memang salah satu cara paling berani dan kelihatan untuk membuat pemotor yang tidak tertib merasa salah dan tidak bisa melewati, namun penuh resiko karena sering ada pemotor yang menggilas kaki.

Menutup Jalan dengan beton Besar

DCID 2 Protes Pedestrian
Photo By Suara.com

Cara kedua untuk protes pemotor yang tetap menggunakan trotoar walaupun bukan haknya. Yaitu dengan menggunakan beton atau bata sambil protes untuk menutupi jalannya motor untuk lewat.

Pakai sepeda

DCID 4 Protes Pedestrian
Photo By Tempo.com

Kendaraan transportasi lain yang sering dipakai untuk membatasi pemotor untuk lewat dan masuk ke trotoar adalah kuda besi tidak bermesin. Aksi ini lebih sering dilakukan sendirian karena dengan sepeda bisa lebih efektif menutup trotoar yang relatif semput

Pembatas besi ramah Difabel

DCID 5 Protes Pedestrian Jakarta
Photo By Jabar.Pojoksatu.id

Beda Dengan yang lainnya yang merupakan aksi oleh orang yang protes terhadap motor yang masuk ke jalanan. Pembatas besi seperti ini memang telah ditanam oleh pemerintah agar pemotor tidak bisa menggunakan trotoar bagaikan jalan atau tempat parkir. Tapi beda dengan cara lain yang sering digunakan, menggunakan pagar bentuk S ini lebih bisa dipakai oleh pengguna kursi roda, tapi tetap saja dibandingkan dengan metode pembatas jalan lain, pembatas besi seperti ini yang lebih ribet karena harus berbelok mengikuti pembatas dan jika pejalan kaki ramai bisa jadi titik macet pejalan kaki.

Tutup pagar total

DCID 5 protes pejalan kaki
Photo By Elshinta.com

Cara terakhir untuk membuat pemotor tidak bisa memakai trotoar jalan sama sekali adalah dengan menutup pagar total area trotoar yang memang membuat pejalan kaki lebih susah menyeberang jalan, tapi cuma cara ini yang paling ampuh dalam mengurangi kemacetan juga karena mengurangi dengan banyak jumlah tukang ojek dan kendaraan umum yang mangkal di dekat trotoar, apalagi kalo trotoar itu tepat di sebelah stasiun atau daerah kantor.

Comments

comments